About Us
Lorem Ipsum is simply dummy text ofering thetonat sunrising printing and typesetting industry seo is partysipati carma. Lorem Ipsum is simply dummy,
Follow Us

Blog

Hyper-Critical Leadership ala Silicon Valley, Masih Relevan-kah?


Dunia startup dan IT selalu memunculkan sesuatu yang baru. Mulai dari inovasi teknologi, marketing,financial, manajemen, hingga leadership. Cerita-cerita tentang founder startup di Silicon Valley yang mampu mewujudkan mimpinya menciptakan produk yang digunakan banyak orang dan bervaluasi miliaran dollar, jadi “new American dream” buat anak-anak muda.

Kesuksesan itu juga yang membuat segala hal yang berbau startup, dan budaya Silicon Valley menjadi sesuatu yang sexy buat anak muda sekarang (mungkin istri saya mau nikah sama saya karena saya founder startup, walaupun kere, hehe).

Dengan Silicon Valley sebagai kiblat, gaya manajemen dan leadership dari para founder startup disana juga tak luput dari perhatian. Mereka menjadi sumber inspirasi dan para founder startup di Indonesia merasa terilhami(kalau tidak mau disebut copycat atau follower) dari gaya mereka.

Untuk ranah leadership dan manajemen, founder yang sering dijadikan panutan tentu adalah yang mulia Steve Jobs. Tidak saya pungkiri saya pun mengagumi dia, walaupun ada beberapa hal yang menjadi catatan.

Steve Jobs terkenal dengan gaya kepemimpinan yang meledak-ledak, sering mendistorsi realitas, dan perfeksionis. Dia tidak segan-segan memarahi staff selama 30 menit berturut-turut, memecat karyawan di tengah makan siang bersama, ngatain staff HRD nya bermental medioker, dan lain sebagainya. Dia berakting seperti seorang spoil brat sejati, seorang narsistik yang merasa hanya dialah yang bisa mengubah dunia.

Tidak sedikit mantan karyawan Apple yang tersakiti dan membencinya, namun tidak sedikit pula justru malah termotivasi untuk memberikan yang terbaik, sehingga Steve mau mengapresiasi pekerjaannya. Layaknya Simon Cowell di American Idol, ketika pujian datang dari seorang pengkritik, rasanya bagai puncak pencapaian karir.

Demikian pula yang terjadi di Amazon, Jeff Bezos terkenal juga menerapkan culture yang keras. Beberapa kali nampak karyawan menangis di meja kerjanya, atau seorang pria menangis setelah keluar dari ruang meeting.

Gaya leadership seperti itu, selanjutnya kita sebut Mazhab Hyper-Critical Leadership,menghasilkan ketakutan, turn over tinggi, dan hilangnya talent-talent berbakat dari tim. Beberapa tim kreatif dari Macintosh bersumpah tidak akan bergabung bersama Steve Jobs lagi. Jeff Bezos juga harus memberikan klarifikasi tentang apa yang terjadi di Amazon.

Sisi positifnya, tekanan yang besar menghasilkan kesempurnaan dan produk yang sukses. Apple dan Amazon menghasilkan produk yang mumpuni dan mengubah hidup banyak orang, menghasilkan profit miliaran dollar. Namun, perlu digarisbawahi bahwa kita bukanlah Steve Jobs ata Jeff Bezos, dan kita menghadapi budaya dan tim yang jauh berbeda.


Tidak sedikit founder startup di Indonesia mengambil style Hyper-Critical leadership di tim nya. Mereka tidak segan-segan untuk memaki-maki tim nya dengan kata anj*ng, ngent*t, atau paling halus “nggak punya otak”.

Bahkan ada yang terjadi malah mendekati bully dan rasis, seperti membawa-bawa agama dan suku. Mungkin kadang hal itu hanyalah candaan, seperti misal :”Kalau lu berani copot jilbab sekarang, gue bayar 50 juta”, atau “Ngapain lu solat, nggak bakal bikin lu kaya”, atau pernyataan hyper narsistik macam “kalau nggak ada gua, perusahaan ini nggak jalan”, dan lain sebagainya.

Man, bercanda ada batasnya, setiap orang punya perasaan dan keyakinan, dan kalau kamu bertindak seperti itu, kamu tidak terlihat keren samasekali.

Kadang hal itu malah mengaburkan penilaian obyektif, karyawan yang awalnya salah dan bisa diarahkan, malah akan membenci sang founder karena yang dia tangkap adalah marah-marahnya, bukan teguran dan arahan untuk menjadi lebih baik lagi.

Dengan Hyper-Critical leadership, sang founder sebenarnya bermaksud baik, yaitu mengusahakan agar semua berjalan sempurna. Tapi dia mengubah perusahaan menjadi War Zone, setiap hari adalah tekanan, setiap hari adalah perang. Buat beberapa orang, hal ini akan dianggap sebagai tantangan. Namun bagi orang lain, mereka hanya akan cari selamat dan akhirnya menjadi Yes Man, bermental Asal Bapak Senang, dan mematikan kreativitas.


Di sisi lain Richard Branson dari Virgin menerapkan pendekatan yang berbeda. Dia justru lebih mengutamakan Employee daripada Customer. Prinsipnya sederhana, pegawai yang happy dalam bekerja, bangga dengan brand dan identitas perusahaannya, akan melayani pelanggan lebih baik lagi. Happy Employee equals Happy Customer. Dalam statement nya Richard mengatakan bahwa :

Jika pegawai dalam perusahaanmu tidak di-apresiasi dengan baik, mereka tidak akan melakukan tugasnya dengan senyuman

Selain itu Richard juga menegaskan bahwa, Employee First, Customer Second, and Shareholder Third, dimana dia lebih mengutamakan kebahagiaan pegawai, bahkan diatas pelanggan dan pemegang saham.

Jika ditarik ke ranah startup, anggota tim kecil yang berjumlah kurang dari 5 orang, yang ngoding sampe lembur, tidak digaji, dan bahkan tidak dikasih share, tidak akan menghasilkan produk berkualitas jika ia kamu maki-maki di depan banyak orang. Dia tidak akan produktif kalau dia diharuskan bisa melakukan semua tugas, mulai dari programming, sampai nungguin booth pameran.

Pegawai itu akan bertahan karena value yang ada di startup, tapi itu semua ada batas waktunya. Seperti botol soda yang dikocok, suatu saat itu akan menyembur dengan kerasnya. Dan percayalah, biaya yang dikeluarkan untuk orang yang keluar dari tim sangatlah besar. Mungkin memang biaya nya intangible,tapi bayangkan, waktu yang terbuang untuk transfer knowledge, ngajarin karyawan baru, menyamakan visi, dan menyamakan ritme kerja. Hiring is expensive, dan untuk kategori startup yang masih bootstrapping, segala hal yang mahal bisa membunuhmu.


Jadi, masih relevankah jika kita menjadi founder startup dengan tim kecil, malah meng-copy cat Steve Jobs, sering marah-marah tanpa solusi, memaki, melempar barang, dan di satu sisi menjadi media darling sebagai seorang yang paling berpengaruh ataupun paling menjadi disruptor tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini?

Atau kita mencoba untuk belajar kerendahan hati sebagai seorang founder, lebih menghargai tim, menghargai orang lain, dan tidak malah membuat banyak musuh?

Stay down to earth fellas, karena jatuh ke bumi itu sakit, nggak hanya sakit, kebanyakan sih hancur berkeping-keping.

Ahimsa D Afrizal
Director

Referensi :

Silicon Valley has idolized Steve Jobs for Decades and Its Finally Paying The Price

You Are Not Steve Jobs

Richard Branson : Company Should Put Employee First

 

No Comments

Leave a Comment